oleh

INDONESIA SAAT-SAAT TERAKHIR JOKOWI: (5) Toko Roti Cina Solo “Ya, Mevrouw…”

Sri-Bintang Pamungkas

Entah bagaimana ceritanya di jaman dulu orang-orang Cina bisa pandai berdagang. Tentu itu berasal dari budaya Bangsa Cina. Orang Cina juga pandai dalam olah industri. Konon Orang Cina menemukan mesin Cetak dan Mesin Ketik…. Yang jelas, Kembang Api juga asal Cina… Tentunya juga Mercon dan Bom… Rasulullah Muhammad sendiri mengagumi kepandaian Orang-orang Cina ketika menjumpai mereka sebagai pedagang barang-barang sampai Negeri Aladdin…

Bagi kita di Indonesia mengenal Orang-orang Cina itu sebagai penjual Bakmi, Bakso, Bakpao dan Roti pada umumnya. Hampir semua Bakmi, Bakso dan Bakpao ada campuran daging atau gajih babinya, karena “Bak” itu artinya “Babi”. Kalau Mi GM atau Mi Boy ketahuan ada campuran babinya, mereka pasti seketika bangkrut.

Kata “bangkrut” iulah yang seringkali dilupakan para Cina Indonesia itu, bahwa mereka tinggal di Indonesia itu karena pertolongan para konsumen pribumi Indonesia Asli. Mereka bisa hidup makmur, karena konsumennya orang Indonesia Asli yang jumlahnya bikin para Pengusaha di Luar Negeri pun terpikat.

Tujuhpuluh persen dari Cina-cina itu tidak sadar… bahkan sombong, seakan-akan mereka “pandai” dan “bekerja keras”. Mereka memang “pandai” dan “bekerja keras”, tapi di dalamnya ada unsur “tipu-tipuan” dan “akal-akalan”…

Cina-cina _”Ya Mevrauw”_ Solo itu sadar betul tentang hal itu. Bahwa kalau tidak ada konsumen Indonesia Asli yang berlimpah-ruah seperti hidup di Indonesia ini, mereka pun akan bangkrut, sekalipun “pulang ke negeri Cina” pun mereka tak mau. Orang-orang yang sudah kaya-raya seperti orang LIPPO, BCA, Indomaret, Jarum Kretek, Sampurna 234, Ciputra, Sinar Mas, Holland Bakery… mana mau pulang ke Daratan Cina… Enakan di Indonesia… Tidak cuma menjadi kaya dan semakin kaya, bahkan Lama-lama Indonesia Pasti (menjadi) Punya Oé… Itu keyakinan sebagian dari mereka!

Pastilah _”Ya Mevrouw”_ sudah tidak ada sekarang ini, kecuali Anak-anaknya yang sudah menyebar menjadi pengusaha-pengusaha sendiri. Seingat saya ada dua perempuan Cina tua di situ… yang suka melayani toko Roti… macam-macam roti, abon, dendeng… dan lain-lain… sewaktu saya masih SR dan SMP…

Kalau yang datang orang macam Ibu saya yang dari penampilannya fasih berbahasa Belanda, pasti jawabnya _”Ya, Mevrouw!”_. Ibuku mau ini dan itu, jawabnya selalu _”Ya, Mevrouw”_, _”Ya, Mevrouw”_. Kalau yang datang bapak-bapak jawabya _”Ya, Tuan”_. Toko Roti itu kemudian dikenal dengan toko _”Ya Mevrouw”_. Lokasinya di depan toko Obral Singosaren; dan juga di depan rumah Makan Hisman ( awalnya _Huysman_, mungkin maksudnya untuk pelanggan lelaki) yang terkenal suka dengan Salad Solo-nya.

Banyak Cina Solo yang sukses dan sadar bahwa mereka sukses karena tinggal di Indonesia. Karena itu mereka sopan, ramah dan baik serta suka menolong seperti sifat Orang Indonesia Asli umumnya. Ada beberapa temanku di Solo seperti Tjong Bi, Pik Ay dan Ho Nio… Tapi baru di ITB saya kenal cina-cina itu dengan dekat dan sebagai sahabat. Sebagian masih ada sampai sekarang, ada yang sudah meninggal, dan ada yang menjadi Warga Negara AS…

Tapi seperti kebanyakan pendatang, mereka segregatif… lebih nyaman bersama lingkungannya. Termasuk aku pun punya perasaan sama ketika ada di AS, lebih sering ngumpul bersama sesama Indonesia, baik yang Cina maupun yang Pribumi… Jadi itu sifat yang manusiawi.

Toko Roti Cina _”Ya, Mevrouw”_ sudah lama hilang… Orang-orang Cina macam _”Ya, Mevrouw”_ juga sudah hilang… Pik Ay, Mei Hoa, Lian Hoa, Ho Nio, Hok Djien dan lain-lain sudah pula hilang… Yang muncul sekarang adalah generasi Cina Konglomerat dan Cina Sontoloyo… Tidak semua, tapi hampir semua yang muncul di permukaan adalah seperti itu.

Mereka memanfaatkan situasi yang diciptakan Pak Harto yang memulai Orde Baru dan Kena Bohong para Mafia Berkeley… Salahsatunya adalah ganti nama Cina. Maka muncullah Sudono Salim, Prayogo Pangestu, Samsul Nursalim, Ciputra, Eka Cipta, Martua Sirait dan jutaan lainnya… Seperti Jokowi, tidak lagi mudah mengetahui dia itu Cina atau bukan. Mereka tidak seperti _”Ya, Mevrouw”_, melainkan sombong, angkuh, merasa seperti Yang Dipertuan, merasa seperti Yang Punya Negara, berjiwa segregatif dan diskriminatif…. Persis seperti ketika masa penjajahan Belanda, mereka, orang-orang Keturunan para Pendatang itu, didudukkan lebih tinggi dari Kaum Pribumi Indonesia Asli dan memandang rendah…

Awalnya Soeharto membagi-bagi kawasan hutan tropis berupa HPH-HPH atau Hak Pengusahaan Hutan kepada Jenderal-jenderal Pendukung Orde Baru. Karena tak mampu mengusahakan, maka para Jenderal itu ramai-ramai menjual HPH-nya kepada Cina-cina berduit. Mereka pinjam duit dari Cina2 Singapur. Seperti mendapati hujan Emas, para Cina ini menggunduli hutan… Ada yang meninggalkannya begitu saja dengan menjual Log-log kayu hutan yang bernilai Milyaran Dollar, ada pula yang mengkonversinya menjadi HTI (Hutan Tanaman Industri)… Jadilah mereka orang-orang Cina kaya baru Indonesia. Para Pribumi tersingkir, termasuk para Jenderalnya.

Lalu Soeharto bikin aturan untuk menggalakkan investasi… segala macam investasi. Dari total investasi, 75% boleh meminjam dari Bank. Cina-cina yang punya Otak Tipuan itu menipu Bank… Bank-nya Sontoloyo lagi! Sehingga, yg bermodal dengkul, dengan pinjaman 25%, pun bisa memperoleh Fasilitas Kredit senilai 125% investasi. Pinjaman 25% dikembalikan, investasi pun berlangsung lancar. Hampir semua Cabang Industri penting, seperti Textil, Otomotif, Makanan dan Minuman, termasuk Rokok Kretek, dikuasai para Cina…

Juga industri Properti. Bayangkan seorang Cina Penyewa Kamar sebelah. Tiap pagi nongkrong bersama Pemilik Rumah yang Pribumi, sarapan Bubur Ayam. Tiap kali si Pemilik Rumah pergi ke luar kota, tiket pesawat sudah disediakan. Anak2 mau sekolah semua sangu sudah tersedia… Belanjaan Nyonya Rumah juga sudah dibayar. Hebat sekali si Cina ini… _”Ya, Mevrouw”_ saja tidak seperti itu. Beberapa tahun kemudian, “hadiah-hadiah” si Penyewa Kamar total sudah sesuai dengan harga Rumah… Maka berpindahlah kepemilikan Rumah itu ke tangan Si Cina.

Itulah konon yang terjadi pada PT. Pembangunan Jaya yang kemudian menjadi milik Ciputra. Dari DKI Jakarta ke Jabodetabek, Ciputra merajalela sampai ke Sulawesi Utara. Lahan di sana, dan juga di lain-lain tempat, mulai dirambahnya. Di sana Ciputra unjuk gigi kepada Rakyat, Kodim dan seorang Jenderal Rakyat. Ciputra menang… Si Jenderal dipenjara…bahkan konon disiksa. Luar Biasa!

Dengan cara semacam itu jutaan hektar lahan mulai dikuasai para Etnis Cina Indonesia… Mereka tidak hanya membangun rumah-rumah, tapi juga kota… BSD City, Sumarecon City, Citra Land City, Podomoro City… Meykarta City dan bahkan IKN City.. Tapi konon sudah banyak yang berpindah tangan ke Cina Singapur atau Cina Asli di RRC… Sebagian dari Republik ini sudah menjadi milik Asing…

Demikian pula soal jalan-jalan raya. Dengan konsep Jokowi, “bangun-jual bangun-jual” dan model Privatisasi Jalan oleh Pak Harto, maka 80% jalan tol Indonesia sudah menjadi milik Jusuf Hamka… Panggilan A Lun; nama keluarga _(she)_-nya Yauw, diganti menjadi Yusuf atau Yosef; nama Hamka diambil dari Buya HAMKA, yang konon mengislamkannya. Kalau saham2 Tol-nya dijual kepada Asing, maka jalan-jalan tol itu menjadi milik Asing di negeri Awak…

Lalu dikabarkan para Nelayan Kampung Akuarium mendapat hadiah rumah-rumah Gratis… Rumah-rumah Akuarium itu tidak beda dengan rumah-rumah recehan para karyawan Rokok Kretek Jarum yang sudah bekerja puluhan tahun… Padahal pemiliknya menjadi Orang Terkaya Nomor Satu…

Konon Rumah Akuarium itu hasil Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta Gubernur Baswedan. Tapi, tujuan utama Reklamasi memang meningkatkan kesejahteraan Nelayan… bukan membikin Pulau-pulau. Entah bagaimana Gubernur Keturunan Arab ini diakali Cina-cina Keturunan. Sehingga, terbit ijin membikin Pulau-pulau bagi Cina-cina Konglomerat Podomoro dan Sedayu dan lain-lain… Dan bangunannya… seperti Kota Seribusatu Malam di jaman Aladin! Bagaimana pula kalau Pulau-pulau hasil pinjaman duit dari Singapur atau RRC itu berpindah ke tangan Asing?!

Pertemuan Anies dengan Agung Podomoro dan Agung Sedayu di rumah Prabowo itu bukan omong kosong: Cukup Recehan bagi Pribumi!

Jakarta, 17 Mei 2022
*@SBP*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed